KELAS AMFHIBIA
1. Keanekaragaman
Hayati
Keanekaragaman
hayati adalah variabilitas di antara makhluk hidup dari semua sumber, termasuk
interaksi ekosistem terrestrial, pesisir dan lautan, dan ekosistem akuatik
lain, serta kompleks ekologik tempat mahluk hidup menjadi bagiannya, hal ini
meliputi keanekaragaman jenis, antarjenis dan ekosistem (Sudarsono, dkk, 2004:
6). Pengertian lain menjelaskan bahwa keanekaragaman hayati
merupakan jutaan tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, termasuk gen yang mereka
miliki, serta ekosistem rumit yang mereka bantu menjadi lingkungan hidup ( Indrawan,dkk,
2007:15).
Pengertian
atau definisi keanekaragaman hayati, menurut (Bappenas, 2004) dapat diartikan dari berbagai aspek, uraian dibawah ini
setidaknya mewakili beberapa diantaranya :
a.
Keanekaragaman hayati
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keanekaan bentuk kehidupan di
bumi, interaksi di antara berbagai makhluk hidup serta antara mereka dengan
lingkungannya.
b.
Keanekaragaman hayati
mencakup semua bentuk kehidupan di muka bumi, mulai dari makhluk sederhana
seperti jamur dan bakteri hingga makhluk yang mampu berpikir seperti manusia.
c.
Keanekaragaman hayati
ialah fungsi-fungsi ekologi atau layanan alam, berupa layanan yang dihasilkan
oleh satu spesies dan/atau ekosistem (ruang hidup) yang memberi manfaat kepada
spesies lain termasuk manusia.
d.
Keanekaragaman hayati
merujuk pada aspek keseluruhan dari sistem penopang kehidupan, yaitu mencakup
aspek sosial, ekonomi dan lingkungan serta aspek sistem pengtahuan dan etika,
dan kaitan di antara berbagai aspek ini.
e.
Keanekaan sistem
pengetahuan dan kebudayaan masyarakat juga terkait erat dengan keanekaragaman
hayati.
Keanekaragaman
organisme merupakan suatu konsep yang menunjuk kepada variasi sifat dan ciri
gen, spesies serta ekosistem. Setiap individu organisme mempunyai ratusan
bahkan ribuan gen dalam kombinasi yang unik dan khas. Kumpulan
individu-individu yang berkerabat dekat menjadi suatu kelompok spesies,
ekmudian berbagai spesies membentuk suatu komunitas. Interaksi antar komunitas
dengan faktor-faktor lingkungan fisik membentuk sistem ekologi. (Nugroho, 2004:123)
Terdapat tiga pendekatan membaca keanekaragaman hayati, yakni
tingkat tingkat ekosistem (1), tingkat taksonomik atau spesies (2), dan tingkat
genetik (3). Berikut uraiannya:
a.
Keanekaragaman ekosistem: mencakup
keanekaragamanan bentuk dan susunan bentang alam, daratan maupun perairan, di
mana makhluk atau organisme hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme)
berinteraksi dan membentuk keterkaitan dengan lingkungan fisiknya.
b.
Keanekaragaman spesies: adalah
keanekaragaman spesies organisme yang menempati suatu ekosistem, di darat
maupun di perairan. Dengan demikian masing-masing organisme mempunyai ciri yang
berbeda satu dengan yang lain.
c.
Keanekaragaman genetis:
adalah keanekaragaman individu di dalam suatu spesies. Keanekaragaman ini
disebabkan oleh perbedaan genetis antar individu. Gen adalah faktor pembawa
sifat yang dimiliki oleh setiap organisme serta dapat diwariskan dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Keanekaragaman spesies atau jenis
adalah jumlah spesies yang beragam yang hidup di suatu lokasi tertentu yang
menunjukkan beberapa karakteristik penting yang berbeda dari kelompok-kelompok
lain, baik secara morfologi, fisiologi, atau biokomia (Indrawan,
2007: 15).
Contoh keterkaitan ketiga tingkat keanekaragaman hayati tersebut
dapat dilihat pada kawasan yang
mempunyai keanekaan ekosistem yang tinggi, biasanya juga memiliki
keanekaragaman spesies yang tinggi dengan variasi genetis yang tinggi pula. Ada
beberapa hal lain yang perlu dipahami mengenai keanekaragaman hayati, yaitu :
a.
Pusat
Asal-usul : adalah wilayah geografis tempat
suatu takson berasal atau pertama kali berkembang.
b.
Pusat
Keanekaragaman : kawasan geografis yang
mempunyai keanekaragaman spesies atau genetis yang tinggi.
c.
Pusat
Endemisme: kawasan geografi dengan jumlah
spesies endemik yang tinggi pada tingkat lokal.
2. Amphibia
Menurut
(iskandar : 1998) Amfibi merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang
memiliki peranan sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara
ekologis, amfibi berperan sebagai pemangsa konsumen primer seperti serangga
atau hewan invertebrata lainnya, serta dapat digunakan sebagai bio-indikator
kondisi lingkungan. Secara ekonomis amfibi dapat dimanfaatkan sebagai sumber
protein hewani, hewan percobaan, hewan peliharaan dan bahan obat-obatan
(Stebbins & Cohen 1997).. Indonesia memiliki dua dari tiga ordo amfibi yang
ada di dunia, yaitu Gymnophiona dan Anura. Ordo Gymnophiona dianggap langka dan
sulit diketahui keberadaannya, sedangkan ordo Anura merupakan yang paling mudah
ditemukan di Indonesia mencapai sekitar 450 jenis atau 11% dari seluruh jenis
Anura di dunia. Ordo Caudata merupakan satu-satunya ordo yang tidak terdapat di
Indonesia.(Darmawan, 2008)
Amphibi
berarti “dua kehidupan” yang mengacu kepada metamorfosis banyak jenis katak.
Kecebong yang merupakan tahap awal larva dari seekor katak, umumnya adalah
herbivora akuatik dengan insang, sistem gurat sisi yang mirip dengan insang,
dan ekor anjang bersisip. Kecebong tidak memiliki kaki dan berenang dengan
menggeliat seperti leluhurnya yang mirip ikan. Selama metamorfosis yang
berakhir dengan “kehidupan kedua”, kaki berkembang, insang dan gurat sisi
menghilang. Tetrapoda muda dengan sepasang paru-paru untuk bernafas, sepasang
gendang eksternal, dan sisitem pencernaan yang diadaptasukan untuk mengkonsumsi
makanan yang karnivora, merangkak ketepian dan memulai kehidupan didarat. Namun
demikian, meskipun menyandang nama amphibia, banyak jenis katak yang tidak
melalui tahapoan kecebong akuatik, dan banyak amphibia tidak hidup di di dua
kehidupan akuatik dan teristerial. Beberapa katak, salamander dan caecilian ada yang hanya hidup di air
dan ada hanya hidup di darat.
Sebagian
amfhibi tetap hidup di dekat air, dan paling berlimpah hidup di tempat lembap
seperti rawa dan hutan hujan tropis. Bahkan katak yang beradaptasi di tempat
yang lebih kering menghabiskan waktunya di dalam lubang sarang atau di bawah
daun yang lembap, di mana kelembapan sangat tinggi. Sebagaian amphibi
bergantung pada kulitnya yang lembab untuk melakukan pertukaran gas dengan
lingkungannya. Beberapa spesies darat tidak mempunyai paru-paru dan bernafas
hanya melalui kulit dan rongga mulutnya. (Campbell, 2000:260)
Amphibi
adalah vertebrata yang secara tipikal dapat hidup baik dalam air tawar dan
didarat. Sebagian besar mengalami metamorfosis dari berudu (akuatis dan
bernafas dengan insang) ke dewasa (amfibius dan bernafas dengan paru-paru),
namun beberapa jenis amphibi tetap mempunyai insang selam hidupnya. Jenis-jenis
yang sekarang ada tidak mempunyai sisik luar, kulit biasanya tipis dan basah.
(Brotowidjoyo, 1998:194)
Amphibia
merupakan perintis vertebrata daratan. Paru-paru dan tulang angota tubuh, yang
mereka warisi dari moyang krosopterigia, memebrikan sarana untuk lokomosi dan
bernafas diudara. Sesuai dengan namanya, amphibia itu hanya separuh hidupnya
didaratan (semiterrestial). Mereka harus kembali untuk bertelur. Peralihan
berkala dari air ke daratan dan sebaliknya menimbulkan masalah tambahan dalam
mempertimbangkan keseimbangan air dan eksresi limbah nitrogen. Didalam air,
seperti pada ikan tawar. Pemasukan air secara terus menerus harus dikeluarkan
melalui glomerulus. Didaratan air harus dipertahankan dengan cara mengurangi
masukan darah ke gomerulus dengan demikian laju filtrasi akan berkurang. Didaratan, kemampuan mendeteksi suara
merupakan hal yang sangat penting, dan amphibi telah mengembangkan telinga
sederhana dari struktur yang diwarisinya
dari moyang mereka. Spirakel dengan membran tertutup yang berfungsi sebagai
gendang telinga dan tulang rahang yang tidak terpakai lagi (yang berasal dari lengkung insang agnatha)
berguna untuk meneruskan getaran dari membran ini ke telinga dalam.(Campbell,
2003: 931)
3. Klasifikasi
Amfhibi
Menurut
Goin & Goin (1971), klasifikasi dan sistematika amfibi adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Animalia,
Filum :
Chordata,
Sub-filum : Vertebrata,
Kelas :
Amphibia
Ordo : Gymnophiona, Caudata dan
Anura.
Amfibia adalah satwa bertulang belakang yang
memiliki jumlah jenis terkecil, yaitu sekitar 4,000 jenis. Walaupun sedikit,
amfibi merupakan satwa bertulang belakang yang pertama berevolusi untuk
kehidupan di darat dan merupakan nenek moyang reptil. (Darmawan, 2008 : 3)
Ada
3 bangsa dalam kelas amphibia, yaitu :
a. Ordo
Caudata (Urodela)
Hanya
ada sekitar 400 jenis dari ordo Urodela, beberapa diantaranya hanya hidup di
air, tetapi yang lain hidup di darat sebagaian hewan dewasa atau bahkan
sepanjang masa kehidupan. Sebagian besar salamender yang hidup didarat berjalan
dengan pembengkokan badan dari sisi ke sisi yang mirip dengan cara berjalan
tetrapoda awal. (Campbell, 2003:259).
Kelompok
amphibi ini merupakan kelompok amphibi yang pada bentuk dewasa mempunyai ekor. Tubuhnya
berbentuk seperti bengkarung (kadal). Beberapa jenis yang dewasa tetap
mempunyai insang, sedangkan jenis-jenis lain insangnya hilang. Sabuk-sabuk
skelet hanya sedikit membantu untuk menyokong kaki. Tubuh dengan jelas terbagi
menjadi ke dalam kepala, badan dan ekor, kaki-kakinya kira-kira sama besar.
Jika akuatis bentuk larva sama seperti dewasa. Dari larva menjadi dewasa
memerlukan waktu beberapa tahun. Contoh Megalobatarachus
japanicus (salamander raksasa, Cina dan Jepang, kira-kira 150 cm), Ambistoma tygrinum (dewasa tidak
mempunyai insang), Hynobius sp, dan Ranodon sp. Katak pohon.
b. Ordo
Saliania (Anura)
Ordo anura mempunyai anggota hampir
3500 spesies, lebih terspesialisasi daripada Urodela untuk pergerakan didarat.
Katak dewassa mengunakan kaki belakangnya yang kuat itu untuk melompat di
tanah. Seekor katak menangkap lalat
dengan menjulurkan lidah panjangnya yang lengket, yang bertaut kebagian mulut.
Katak memperlihatkan beraneka ragam adaptasi yang membantu mereka untuk
menghindari serangan pemangsa yang lebih besar.
Sama dengan amfhibi lain, banyak katak memperlihatkan pola warna yang
menyamarkan. Kelenjar kulit katak menghasilkan mukus, yang tidak enak, bahkan
beracun. Banyak spesies yang beracun memiliki pola warna yang cerah, yang
sebenarnya memberikan peringatan kepada pemangsa yang kemudian mengaitkan pola
warna itu dengan bahaya. (Campbell, 2003 : 259)
Ordo anura merupakan kelompok katak
yang pandai melompat. Pada katak dewasa tidak ada ekor dan bernafas dengan
paru-paru, kaki dan skeleton tumbuh dengan baik. Kepala dan tubuh bersatu
(tidak ada leher). Kaki depan lebih pendek, kaki belakang lebih besar serta
kuat untuk ,melompat. Diantara jari-jari kaki ada selaput (kulit) untuk
berenang, vertebrae ada 10 dan tidak ada tulang rusuk (atau tereduksi).
Fertilisasi eksternal. Larva (berudu) dengan ekor dan sirip-sirip median.
Metamorfosis nyata dan mencolok, contoh katak bangkong (Buffo terestis, Bufo boreas), dan kodok hijau (Rana pipiens). (Brotowidjoyo, 1989:195)
c. Ordo
Apoda (Gymnophiona)
Ordo apoda disebut juga caeciana (sekitar 150 spesies), tidak
bertungkai dan hampir buta, dan sangat menyerupai cacing tanah, caeciana hidup di daerah tropis dimana
sebagian spesies ini bersarang di dalam lubang di tanah hutan yang lembap;
beberapa anggota ordo Apoda di Amerika Selatan hidup dalam kolam dan aliran air
tawar. (Campbell , 2003 : 260).
Ordo anura memiliki tengkorak
kompak, banyak vertebrae, rusuk panjang, kulit lunak dan menghasilkan cairan
yang merangsang. Antara mata dan hidung ada tentakel yang dapat ditonjolkan,
mata sebagai mata vestigal dan mata tidak memiliki kelopak. Memiliki ekor yang
pendek, jantan dengan organ yang kopulasi dapat ditonjolkan keluar. Serupa
cacing, tidak memiliki kaki, menggali lubang. Sisik-sisik dermal (asal mesodermal)
terpendam dalam kuli, ovivar atau ovovivivar. Dan hanya terdapat di daerah
tropis. Contoh Ichthyosisglutinosus.
(Brotowidjoyo, 1989:195)
4. Habitat
Amfhibia
Seperti
arti umumnya, amfhibi hidup selalu berasosiasi dengan air, namun amfhibi hidup
dalam dua alam yang berbeda : air dan darat. Namun demikian amfhibi menghuni
habitat yang sangat berfariasi, dari tergenang di bawah permukaan air sampai yang hidup dipuncak
pohon yang tinggi. Kebanyakan jenis hidup di kawasan berhutan, karena
membutuhkan kelembapan yang cukup untuk melindungi tubuh dari kekeringan.
Beberpa jenis hidup di sungai dan tidak pernah meninggalkan air. Tidak ada
jenis katak yang tahan terhadap air asin atau air payau, kecuali pada dua jenis
katak, sa;ah satunya adalah Fejerfarya
cancrifor, katak rawa atau katak sawah, jenis katak yang sangat dekat
hubungannya dengan kegiatan manusia. Kecuali hidup dalam habitat yang sudah
dimodifikasi manusia seperti sawah.
Amphibi
dapat dikelompokan menururt pemisahan habitatnya :
a. Habitat
yang selalu berkaitan dengan kegiatan manusia, delapan jenis termasuk dalam
kategori ini, yaitu : Bufo melanostcitus,
Fejervarya spp. (tiga jenis), Occydozyga
lima, Rana chalconata, R, erithraea, Polypledates leuconystax, dan mungkin
juga Kalaola balebnta.
b. Jenis
amfhibia yang hidup di pepohonan, kelompok ini termasuk dalam suku katak pohon
: Rachophoridae, bahkan beberapa jenis anggota Microhylidae benar-benar
memanjat pohon. Kecuali Polipedates
leucomystax. Jenis katak pohon lainnya sudah jarang ditemukan karena semua
hidup di dalam huatan.
c. Beberapa
jenis katak hidup di habitat terganggu, yaitu dua jenis Microhyla, Rana baramica, dan R.
Nicobariensis. Dianatara jenis-jenis ynag hidup di sepanjang sungai atau
air yang mengalir terdapat Huia masonii yang
hidup di sungai berakliran deras dan jerbih. Jenis lainnya adalah Bufo biporcatus, B. Parvus, Kaloprhynus
montana. Dan lain sebagainya.
5. Perkembangbiakan
Amfhibia
Reproduksi
terjadi pada semua tingkatan organisasi kehidupan mulai dari tingkatan
monlekuler, seluler sampai organismik, dimana ketiganya memiliki hubungan satu
sama lain. Paul, B Weiz (1963) mendefinisikan reproduksi sebagai perkembangan
materi kehidupan yang terjadi dalam batasan-batasan ruang dan waktu.
Perkembangan materi kehidupan mengandung makna kontinyuitas, artinya melalui
proses reproduksi suatu organisme dapat mempertahankan kelangsungan hidup dan
kehidupan spesiesnya secara langgeng.
Telur
amphibi tidak mempunyai cangkang dan akan mudah kehilangan air dengan cepat
ditempat kering. Fertilisasi terjadi secara eksternal pada sebagian spesis
dengan jantan mendekap betina dan menumpahkan spermanya diatas telur-telur yang
dikeluarkan oleh betina (cari gambar). Amphibi pada umumnya bertelur dikolam,
rawa, atau paling tidak dilikngkungan yang lembap. Beberapa spesies bertelur
sangat banyak didalam kolam sementara, dan angka kematiannya sangat tinggi.
Sebaliknya, beberapa spesies memperlihatkan berbagai macam pemeliharaan anak
dan menelurkan telur dalam jumlah yang relatif sedikit. Bergantung pada
spesies, baik jantan atau betina dapat mengerami telur dipunggungnya, dalam mulut,
atau bahkan dalam perutnya. (Campbell, 2003:260)
Semua
jenis katak mempunyai berudu yang hidup bebas Philautus dan Oreophryne
mempunyai telur besar dengan perkembangan langsung menjadi anak katak,
telurnya tidak menetas menjadi berudu yang hidup bebas. Dalam waktu
sepuluh hari, seekor anak katak kecil akan keluar dari selaput telur. (Djoko,
1998: 3)
Fertilisasi
eksternal, tetapi terjadi ketika katak jantan menjepit katak betina ketika
perkawinan (yaitu ketika telur dilepaskan segera sperma disemprotkan). Katak
betina mempunyai dua ovarium, yang terletak disebelah ventral mesonefros. Telur
dewasa keluar lalu masuk dalam selom, lalu tertarik kedalam oviduk, terus ke
kloaka. Disekitar sejumlah telur itu, terbentuk selubung gelatinosa dan
pembentukan selubung itu terjadi ketika telur masih dalam oviduk. Katak jantan
mempunyai 2 testes yang berhubungan dengan ginjal melalui beberapa vasa
eferensia. Spermatozoa mencapai kloaka melalui saluran wolff.
|
|
|
|
|
Gmabar
1. Metamorfosis katak
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar