Selasa, 18 September 2012



menangislah saat kau rindu
perasaan itu murni yang dimiliki oleh seorang hamba
seperti rasa rindu yang tak pernah untuk diminta
akan selalu hadir dalam jiwa seorang hamba
tak pernah ku mengerti dan sulit untuk ku fahami
entah dari mana kerinduan itu bermula
merasuki akal fikiran yang mungkin tak bisa terkendali
saat ia datang,
menangislah dalam dekapan alam
sapaan angin malam akan memberikan ketenangan
mengisi relung kerinduan yang datang
menangislah,
berikan senyuman untuk kerinduan
agar kau terbebas

Kamis, 16 Agustus 2012

Minggu, 17 Juni 2012

Qasidah di Balik Jilbab

Telah aku rasakan surga di balik jilbab mu
Maafkanlah
Bukannya aku di hantui fikiran-fikiran kotor
Sebab surga begitu malu 
Menampakan dirinya di mata memandang
Nafas penuh nafsu
Seperti engkau tak ingin mengusik
Syahwatku yang masih liar
Biarkan surga ku tetap
Di balik jilbab mu


Minggu, 10 Juni 2012

jiwa yang lelah

kala malam datang dengan sinar cahaya rembulan
berikan sejenak kesejukan dalam jiwa yang lelah
lepas dalam keheningan
menangis dalam kesendirian
mengadu pada sang pencipta atas apa yang telah diperbuat
air mata tak tertahan
mengalir dalam kesepian
Ya Rabbi....Kau Maha Tahu dan Melihat
Kau Maha Mendengar dan Berkuasa
dalam kesepian ini
jiwa yang lelah mengadu pada Mu 
Ya Rabbi, Ampuni setiap butir dosa-dosa ku
berikan kemudahan untuk menggapai keimanan yang kokoh
lelah jiwa ini menapaki jalan kehidupan yang fana
terombang ambing dalam derasnya arus dunia
yang menyediakan  berjuta kenikmatan semu
Ya Rabbi, kuat kan keimanan ku
berikan secercah cahaya Mu dalam jiwa yang lelah
agar aku tak termasuk dalam golongan yang ingkar dan merugi
Ya Rabbi, hanya itu pintaku.......


Kamis, 07 Juni 2012


Sa'at nyawamu terpisah...
Jasad dan ragamu terbujur kaku...
Wajah muram menyelimuti.
Semua mata yang memandang..
Sesungguhnya manusia.
Tak ada yang abadi...
Semua pasti mati...
Di alam tanah ini....

 

Senin, 04 Juni 2012

Salah kah aku.........???

mengharap kasih mu...
merindukan mu, salah kah aku
melepas rasa kangen yang dalam.........

salah kah aku ???
mencoba berpaling dengan rasa ini
namun aku tak dapat melakukannya
salahkah aku, memiliki rasa ini....
salah kah aku ????............... dengan semua ini
............
.......
maaf, dengan ketulusan dan rasa sesal yang mendalam
dengan rasa hormat dan taat ku
kesalahan yang ku buat hanya sepenggal jeritan jiwa yang sunyi,
yang merindukan akan sosok dan kasih mu....
salah kah aku, memiliki dan mngungkap kan semua ini ???
salah kah aku..........

salahkah aku ?? merasakan semua ini....
...............
...........
........
hanya kekecewaan yang ku dapat.....

sepenggal bait kata yang tertulis dalam buku lusuh catatan seorang anak rantau,  perasaan hati yang terungkap dalam lembaran kertas putih cara dia untuk mengungkapkan semua perasaan yang di rasanya.


Selasa, 22 Mei 2012


KELAS  AMFHIBIA

1.    Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati adalah variabilitas di antara makhluk hidup dari semua sumber, termasuk interaksi ekosistem terrestrial, pesisir dan lautan, dan ekosistem akuatik lain, serta kompleks ekologik tempat mahluk hidup menjadi bagiannya, hal ini meliputi keanekaragaman jenis, antarjenis dan ekosistem (Sudarsono, dkk, 2004: 6). Pengertian lain menjelaskan bahwa keanekaragaman hayati merupakan jutaan tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, termasuk gen yang mereka miliki, serta ekosistem rumit yang mereka bantu menjadi lingkungan hidup ( Indrawan,dkk, 2007:15).
Pengertian atau definisi keanekaragaman hayati, menurut (Bappenas, 2004) dapat diartikan dari berbagai aspek, uraian dibawah ini setidaknya mewakili beberapa diantaranya :
a.    Keanekaragaman hayati adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keanekaan bentuk kehidupan di bumi, interaksi di antara berbagai makhluk hidup serta antara mereka dengan lingkungannya.
b.    Keanekaragaman hayati mencakup semua bentuk kehidupan di muka bumi, mulai dari makhluk sederhana seperti jamur dan bakteri hingga makhluk yang mampu berpikir seperti manusia.
c.    Keanekaragaman hayati ialah fungsi-fungsi ekologi atau layanan alam, berupa layanan yang dihasilkan oleh satu spesies dan/atau ekosistem (ruang hidup) yang memberi manfaat kepada spesies lain termasuk manusia.
d.   Keanekaragaman hayati merujuk pada aspek keseluruhan dari sistem penopang kehidupan, yaitu mencakup aspek sosial, ekonomi dan lingkungan serta aspek sistem pengtahuan dan etika, dan kaitan di antara berbagai aspek ini.
e.    Keanekaan sistem pengetahuan dan kebudayaan masyarakat juga terkait erat dengan keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman organisme merupakan suatu konsep yang menunjuk kepada variasi sifat dan ciri gen, spesies serta ekosistem. Setiap individu organisme mempunyai ratusan bahkan ribuan gen dalam kombinasi yang unik dan khas. Kumpulan individu-individu yang berkerabat dekat menjadi suatu kelompok spesies, ekmudian berbagai spesies membentuk suatu komunitas. Interaksi antar komunitas dengan faktor-faktor lingkungan fisik membentuk sistem ekologi. (Nugroho, 2004:123)
Terdapat tiga pendekatan membaca keanekaragaman hayati, yakni tingkat tingkat ekosistem (1), tingkat taksonomik atau spesies (2), dan tingkat genetik (3). Berikut uraiannya:
a.    Keanekaragaman ekosistem: mencakup keanekaragamanan bentuk dan susunan bentang alam, daratan maupun perairan, di mana makhluk atau organisme hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme) berinteraksi dan membentuk keterkaitan dengan lingkungan fisiknya.
b.    Keanekaragaman spesies: adalah keanekaragaman spesies organisme yang menempati suatu ekosistem, di darat maupun di perairan. Dengan demikian masing-masing organisme mempunyai ciri yang berbeda satu dengan yang lain.
c.    Keanekaragaman genetis: adalah keanekaragaman individu di dalam suatu spesies. Keanekaragaman ini disebabkan oleh perbedaan genetis antar individu. Gen adalah faktor pembawa sifat yang dimiliki oleh setiap organisme serta dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Keanekaragaman spesies atau jenis adalah jumlah spesies yang beragam yang hidup di suatu lokasi tertentu yang menunjukkan beberapa karakteristik penting yang berbeda dari kelompok-kelompok lain, baik secara morfologi, fisiologi, atau biokomia (Indrawan, 2007: 15).
Contoh keterkaitan ketiga tingkat keanekaragaman hayati tersebut dapat dilihat  pada kawasan yang mempunyai keanekaan ekosistem yang tinggi, biasanya juga memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi dengan variasi genetis yang tinggi pula. Ada beberapa hal lain yang perlu dipahami mengenai keanekaragaman hayati, yaitu :
a.    Pusat Asal-usul : adalah wilayah geografis tempat suatu takson berasal atau pertama kali berkembang.
b.    Pusat Keanekaragaman : kawasan geografis yang mempunyai keanekaragaman spesies atau genetis yang tinggi.
c.    Pusat Endemisme: kawasan geografi dengan jumlah spesies endemik yang tinggi pada tingkat lokal.
2.    Amphibia
Menurut (iskandar : 1998) Amfibi merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang memiliki peranan sangat penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, amfibi berperan sebagai pemangsa konsumen primer seperti serangga atau hewan invertebrata lainnya, serta dapat digunakan sebagai bio-indikator kondisi lingkungan. Secara ekonomis amfibi dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani, hewan percobaan, hewan peliharaan dan bahan obat-obatan (Stebbins & Cohen 1997).. Indonesia memiliki dua dari tiga ordo amfibi yang ada di dunia, yaitu Gymnophiona dan Anura. Ordo Gymnophiona dianggap langka dan sulit diketahui keberadaannya, sedangkan ordo Anura merupakan yang paling mudah ditemukan di Indonesia mencapai sekitar 450 jenis atau 11% dari seluruh jenis Anura di dunia. Ordo Caudata merupakan satu-satunya ordo yang tidak terdapat di Indonesia.(Darmawan, 2008)
Amphibi berarti “dua kehidupan” yang mengacu kepada metamorfosis banyak jenis katak. Kecebong yang merupakan tahap awal larva dari seekor katak, umumnya adalah herbivora akuatik dengan insang, sistem gurat sisi yang mirip dengan insang, dan ekor anjang bersisip. Kecebong tidak memiliki kaki dan berenang dengan menggeliat seperti leluhurnya yang mirip ikan. Selama metamorfosis yang berakhir dengan “kehidupan kedua”, kaki berkembang, insang dan gurat sisi menghilang. Tetrapoda muda dengan sepasang paru-paru untuk bernafas, sepasang gendang eksternal, dan sisitem pencernaan yang diadaptasukan untuk mengkonsumsi makanan yang karnivora, merangkak ketepian dan memulai kehidupan didarat. Namun demikian, meskipun menyandang nama amphibia, banyak jenis katak yang tidak melalui tahapoan kecebong akuatik, dan banyak amphibia tidak hidup di di dua kehidupan akuatik dan teristerial. Beberapa katak, salamander dan caecilian ada yang hanya hidup di air dan ada hanya hidup di darat.
Sebagian amfhibi tetap hidup di dekat air, dan paling berlimpah hidup di tempat lembap seperti rawa dan hutan hujan tropis. Bahkan katak yang beradaptasi di tempat yang lebih kering menghabiskan waktunya di dalam lubang sarang atau di bawah daun yang lembap, di mana kelembapan sangat tinggi. Sebagaian amphibi bergantung pada kulitnya yang lembab untuk melakukan pertukaran gas dengan lingkungannya. Beberapa spesies darat tidak mempunyai paru-paru dan bernafas hanya melalui kulit dan rongga mulutnya. (Campbell, 2000:260)
Amphibi adalah vertebrata yang secara tipikal dapat hidup baik dalam air tawar dan didarat. Sebagian besar mengalami metamorfosis dari berudu (akuatis dan bernafas dengan insang) ke dewasa (amfibius dan bernafas dengan paru-paru), namun beberapa jenis amphibi tetap mempunyai insang selam hidupnya. Jenis-jenis yang sekarang ada tidak mempunyai sisik luar, kulit biasanya tipis dan basah. (Brotowidjoyo, 1998:194)
Amphibia merupakan perintis vertebrata daratan. Paru-paru dan tulang angota tubuh, yang mereka warisi dari moyang krosopterigia, memebrikan sarana untuk lokomosi dan bernafas diudara. Sesuai dengan namanya, amphibia itu hanya separuh hidupnya didaratan (semiterrestial). Mereka harus kembali untuk bertelur. Peralihan berkala dari air ke daratan dan sebaliknya menimbulkan masalah tambahan dalam mempertimbangkan keseimbangan air dan eksresi limbah nitrogen. Didalam air, seperti pada ikan tawar. Pemasukan air secara terus menerus harus dikeluarkan melalui glomerulus. Didaratan air harus dipertahankan dengan cara mengurangi masukan darah ke gomerulus dengan demikian laju filtrasi akan berkurang.  Didaratan, kemampuan mendeteksi suara merupakan hal yang sangat penting, dan amphibi telah mengembangkan telinga sederhana  dari struktur yang diwarisinya dari moyang mereka. Spirakel dengan membran tertutup yang berfungsi sebagai gendang telinga dan tulang rahang yang tidak terpakai lagi  (yang berasal dari lengkung insang agnatha) berguna untuk meneruskan getaran dari membran ini ke telinga dalam.(Campbell, 2003: 931)
3.    Klasifikasi Amfhibi
Menurut Goin & Goin (1971), klasifikasi dan sistematika amfibi adalah sebagai berikut:
Kingdom           : Animalia,
Filum                 : Chordata,
Sub-filum           : Vertebrata,
Kelas                  : Amphibia
Ordo                  : Gymnophiona, Caudata dan Anura.
 Amfibia adalah satwa bertulang belakang yang memiliki jumlah jenis terkecil, yaitu sekitar 4,000 jenis. Walaupun sedikit, amfibi merupakan satwa bertulang belakang yang pertama berevolusi untuk kehidupan di darat dan merupakan nenek moyang reptil. (Darmawan, 2008 : 3)
Ada 3 bangsa dalam kelas amphibia, yaitu :                    
a.    Ordo Caudata (Urodela)
Hanya ada sekitar 400 jenis dari ordo Urodela, beberapa diantaranya hanya hidup di air, tetapi yang lain hidup di darat sebagaian hewan dewasa atau bahkan sepanjang masa kehidupan. Sebagian besar salamender yang hidup didarat berjalan dengan pembengkokan badan dari sisi ke sisi yang mirip dengan cara berjalan tetrapoda awal. (Campbell, 2003:259).
Kelompok amphibi ini merupakan kelompok amphibi yang pada bentuk dewasa mempunyai ekor. Tubuhnya berbentuk seperti bengkarung (kadal). Beberapa jenis yang dewasa tetap mempunyai insang, sedangkan jenis-jenis lain insangnya hilang. Sabuk-sabuk skelet hanya sedikit membantu untuk menyokong kaki. Tubuh dengan jelas terbagi menjadi ke dalam kepala, badan dan ekor, kaki-kakinya kira-kira sama besar. Jika akuatis bentuk larva sama seperti dewasa. Dari larva menjadi dewasa memerlukan waktu beberapa tahun. Contoh Megalobatarachus japanicus (salamander raksasa, Cina dan Jepang, kira-kira 150 cm), Ambistoma tygrinum (dewasa tidak mempunyai insang), Hynobius sp, dan Ranodon sp. Katak pohon.

b.    Ordo Saliania (Anura)
Ordo anura mempunyai anggota hampir 3500 spesies, lebih terspesialisasi daripada Urodela untuk pergerakan didarat. Katak dewassa mengunakan kaki belakangnya yang kuat itu untuk melompat di tanah.  Seekor katak menangkap lalat dengan menjulurkan lidah panjangnya yang lengket, yang bertaut kebagian mulut. Katak memperlihatkan beraneka ragam adaptasi yang membantu mereka untuk menghindari serangan pemangsa yang lebih besar.  Sama dengan amfhibi lain, banyak katak memperlihatkan pola warna yang menyamarkan. Kelenjar kulit katak menghasilkan mukus, yang tidak enak, bahkan beracun. Banyak spesies yang beracun memiliki pola warna yang cerah, yang sebenarnya memberikan peringatan kepada pemangsa yang kemudian mengaitkan pola warna itu dengan bahaya. (Campbell, 2003 : 259)
Ordo anura merupakan kelompok katak yang pandai melompat. Pada katak dewasa tidak ada ekor dan bernafas dengan paru-paru, kaki dan skeleton tumbuh dengan baik. Kepala dan tubuh bersatu (tidak ada leher). Kaki depan lebih pendek, kaki belakang lebih besar serta kuat untuk ,melompat. Diantara jari-jari kaki ada selaput (kulit) untuk berenang, vertebrae ada 10 dan tidak ada tulang rusuk (atau tereduksi). Fertilisasi eksternal. Larva (berudu) dengan ekor dan sirip-sirip median. Metamorfosis nyata dan mencolok, contoh katak bangkong (Buffo terestis, Bufo boreas), dan kodok hijau (Rana pipiens). (Brotowidjoyo, 1989:195)

c.    Ordo Apoda (Gymnophiona)
Ordo apoda disebut juga caeciana (sekitar 150 spesies), tidak bertungkai dan hampir buta, dan sangat menyerupai cacing tanah, caeciana hidup di daerah tropis dimana sebagian spesies ini bersarang di dalam lubang di tanah hutan yang lembap; beberapa anggota ordo Apoda di Amerika Selatan hidup dalam kolam dan aliran air tawar. (Campbell , 2003 : 260).
Ordo anura memiliki tengkorak kompak, banyak vertebrae, rusuk panjang, kulit lunak dan menghasilkan cairan yang merangsang. Antara mata dan hidung ada tentakel yang dapat ditonjolkan, mata sebagai mata vestigal dan mata tidak memiliki kelopak. Memiliki ekor yang pendek, jantan dengan organ yang kopulasi dapat ditonjolkan keluar. Serupa cacing, tidak memiliki kaki, menggali lubang. Sisik-sisik dermal (asal mesodermal) terpendam dalam kuli, ovivar atau ovovivivar. Dan hanya terdapat di daerah tropis. Contoh Ichthyosisglutinosus. (Brotowidjoyo, 1989:195)
4.    Habitat Amfhibia
Seperti arti umumnya, amfhibi hidup selalu berasosiasi dengan air, namun amfhibi hidup dalam dua alam yang berbeda : air dan darat. Namun demikian amfhibi menghuni habitat yang sangat berfariasi, dari tergenang di bawah  permukaan air sampai yang hidup dipuncak pohon yang tinggi. Kebanyakan jenis hidup di kawasan berhutan, karena membutuhkan kelembapan yang cukup untuk melindungi tubuh dari kekeringan. Beberpa jenis hidup di sungai dan tidak pernah meninggalkan air. Tidak ada jenis katak yang tahan terhadap air asin atau air payau, kecuali pada dua jenis katak, sa;ah satunya adalah Fejerfarya cancrifor, katak rawa atau katak sawah, jenis katak yang sangat dekat hubungannya dengan kegiatan manusia. Kecuali hidup dalam habitat yang sudah dimodifikasi manusia seperti sawah.
Amphibi dapat dikelompokan menururt pemisahan habitatnya :
a.    Habitat yang selalu berkaitan dengan kegiatan manusia, delapan jenis termasuk dalam kategori ini, yaitu : Bufo melanostcitus, Fejervarya spp. (tiga jenis), Occydozyga lima, Rana chalconata, R, erithraea, Polypledates leuconystax, dan mungkin juga Kalaola balebnta.
b.    Jenis amfhibia yang hidup di pepohonan, kelompok ini termasuk dalam suku katak pohon : Rachophoridae, bahkan beberapa jenis anggota Microhylidae benar-benar memanjat pohon. Kecuali Polipedates leucomystax. Jenis katak pohon lainnya sudah jarang ditemukan karena semua hidup di dalam huatan.
c.    Beberapa jenis katak hidup di habitat terganggu, yaitu dua jenis Microhyla, Rana baramica, dan R. Nicobariensis. Dianatara jenis-jenis ynag hidup di sepanjang sungai atau air yang mengalir terdapat Huia masonii yang hidup di sungai berakliran deras dan jerbih. Jenis lainnya adalah Bufo biporcatus, B. Parvus, Kaloprhynus montana. Dan lain sebagainya.


5.    Perkembangbiakan Amfhibia
Reproduksi terjadi pada semua tingkatan organisasi kehidupan mulai dari tingkatan monlekuler, seluler sampai organismik, dimana ketiganya memiliki hubungan satu sama lain. Paul, B Weiz (1963) mendefinisikan reproduksi sebagai perkembangan materi kehidupan yang terjadi dalam batasan-batasan ruang dan waktu. Perkembangan materi kehidupan mengandung makna kontinyuitas, artinya melalui proses reproduksi suatu organisme dapat mempertahankan kelangsungan hidup dan kehidupan spesiesnya secara langgeng.
Telur amphibi tidak mempunyai cangkang dan akan mudah kehilangan air dengan cepat ditempat kering. Fertilisasi terjadi secara eksternal pada sebagian spesis dengan jantan mendekap betina dan menumpahkan spermanya diatas telur-telur yang dikeluarkan oleh betina (cari gambar). Amphibi pada umumnya bertelur dikolam, rawa, atau paling tidak dilikngkungan yang lembap. Beberapa spesies bertelur sangat banyak didalam kolam sementara, dan angka kematiannya sangat tinggi. Sebaliknya, beberapa spesies memperlihatkan berbagai macam pemeliharaan anak dan menelurkan telur dalam jumlah yang relatif sedikit. Bergantung pada spesies, baik jantan atau betina dapat mengerami telur dipunggungnya, dalam mulut, atau bahkan dalam perutnya. (Campbell, 2003:260)
Semua jenis katak mempunyai berudu yang hidup bebas Philautus dan Oreophryne mempunyai telur besar dengan perkembangan langsung menjadi anak katak, telurnya tidak menetas menjadi berudu yang hidup bebas. Dalam waktu sepuluh hari, seekor anak katak kecil akan keluar dari selaput telur. (Djoko, 1998: 3)
Fertilisasi eksternal, tetapi terjadi ketika katak jantan menjepit katak betina ketika perkawinan (yaitu ketika telur dilepaskan segera sperma disemprotkan). Katak betina mempunyai dua ovarium, yang terletak disebelah ventral mesonefros. Telur dewasa keluar lalu masuk dalam selom, lalu tertarik kedalam oviduk, terus ke kloaka. Disekitar sejumlah telur itu, terbentuk selubung gelatinosa dan pembentukan selubung itu terjadi ketika telur masih dalam oviduk. Katak jantan mempunyai 2 testes yang berhubungan dengan ginjal melalui beberapa vasa eferensia. Spermatozoa mencapai kloaka melalui saluran wolff.
Perkembangan selanjutnya terjadi dalam air, pembelahan total, inekual (dari 8 buah sel, yang 4 buah diatas lebih kecil dari kuartet (4 buah sel) yang dibawah). Gastrulasi berahir terutama setelah terbentuknya 2 lapisan mesoderm. Dalam perkembangan selanjutnya terbentuk stadium larva akuatis, bernafas dengan insang dan disebut berudu, dan dengan metamorfosis terjadi katak dewasa.




Gmabar 1. Metamorfosis katak